Jumat, 29 Mei 2015

Review 7 Hari Menembus Waktu, Tak Sejadul yang Dibayangkan


Melihat trailernya ketika menonton film Doea Tanda Cinta, saya langsung tertarik untuk segera menyaksikan film berjudul 7 Hari Menembus Waktu ini. Diproduksi oleh MD Pictures, film bergenre drama romantis remaja ini diadaptasi dari novel laris karya Charon.

Hal pertama yang membuat tertarik nonton adalah adanya kilasan tentang video game jadul, Mario Bros, di konsol NES. Selain itu juga, dikarenakan adanya pernak pernik tahun 90an yang ditampilkan di dalamnya seperti kaset, ontel, motor dan beberapa lainnya. Saya berharap dengan menonton film yang disutradarai oleh Nayato Fio Nuala ini bisa membangkitkan nostalgia.

7 Hari Menembus Waktu berkisah tentang siswi SMA yang sangat manja, berkelakuan minus dan mengganggu, bernama Marissa (Anjani Dina). Ia adalah anak dari pengusaha kaya yang kesehariannya sangat berkecukupan bahkan terlalu lebih dibandingkan semua temannya di sekolah. Masalah muncul ketika kekasihnya, Michael (Brandon Salim), memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaanya.

Masalah yang lebih besar lagi terjadi ketika Marissa emosi dan marah-marah ke lukisan yang dipercaya bisa mengabulkan segala permohonan. Ia pun secara ajaib dikirim ke masa lalu (time travel), tahun 1994, sebagai akibat dari ucapannya.

Marissa hanya bisa kembali ke masanya apabila dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dalam kurun waktu 7 hari.

Akting menyebalkan

Serius, hampir semua pemeran remaja di film yang dibintangi oleh Ferry Salim dan Karina Suwandi ini sangat menyebalkan. Mulai yang cupu tapi sok cuek seperti William (Teuku Rasyya) sebagai siswa yang ditemui Marissa saat terkirim ke tahun 1994, macho dan penindas seperti Ben (Ciccio Manassero), si cantik Cleo (Amanda Rawles), sampai Selina (Indah Permatasari) yang sukses merebut Michael dari Marissa.

Peran Anjani Dina sangat pas dengan tugasnya sebagai anak yang bermasalah, begitu pula Teuku Rasyya yang mampu berperan sebagai seorang siswa kaya yang culun dan korbal bully. Ngeselin, keduanya. Sayangnya peran Ciccio sebagai anak macho sedikit terganggu dengan logatnya yang kurang lancar, muka dan ekspresi sih oke, sehingga ketika ia melakukan adegan bully jadi kurang gereget (malah lucu).

Penceritaan kurang berdasar

Ketika si masa lalu Marissa ingin kembali, ada secarik kertas yang entah datang dari mana yang bertuliskan jika ia ingin kembali ke masanya, maka selama 7 hari dia harus mengubah sikapnya. Itu kertas datang dari mana? Nggak ada ide gwe! Maksa banget.

Diproduseri oleh Karan Mahtani dan ditulis oleh Haqi Achmad, penceritaan latar belakang kehidupan William selaku pemain yang banyak tampil juga kurang maksimal sehingga muncul banyak pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, orang tuanya dan Selena (Cynthia Ramlan) sebagai tantenya William. Begitu juga dengan alasan sebuah lukisan bisa mengabulkan keinginan dan kenapa ia bisa ada di sekolah Marissa.

Agak membingungkan!

Kurang jadul

Padahal berharap ada banyak adegan dan penampakan zaman 90an di film ini, tapi sayangnya hanya sedikit. Suguhan adegan yang menampilkan kesan taun 90an hanya ada di awal film, sedangkan sisanya sama saja seperti pada zaman sekarang karena lebih banyak adegan di sekolah dan rumah.

Pesan moral bagus

Terlepas dari kekurangannya, saya menangkap pesan moral yang ingin disampaikan pada film ini. Jangan berlebihan! Baik itu dalam cinta, membenci, dan marah.

Hal yang paling ingin disampaikan pada film ini adalah sebuah usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan juga perlunya seseorang untuk bersikap berani. Dikutip dari pernyataan Marissa, "Keberanian akan membuka banyak pintu."

***

Awalnya saya kira film ini akan seperti seri TV Lorong Waktu, ternyata tidak.

Secara keseluruhan, saya menilai film ini cukup menarik. Bagus banget sih nggak, tapi jelek juga tidak. Tengah-tengah gitulah.

Hanya saja meski cerita pada film ini saya rasa biasa banget, tapi sepanjang penayangannya cukup bisa membuat saya senyum-senyum karena teringat masa lalu ketika SMA, maksudnya SMK dulu. Saat pacaran, makan di kantin, perpustakaan, bully dan beberapa adegan di sekolah lainnya.

Demikianlah ulasan saya tentang film 7 Hari Menembus Waktu.

Skor 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar