Kamis, 23 April 2015

Review Avengers: Age of Ultron - Hanya Menyenangkan Penggemar


Kemeriahan Avengers: Age of Ultron pada akhirnya membuat saya mau menyaksikannya di bioskop pada hari pertama penayangannya di Indonesia, 22 April 2015. Berlokasi di Blitzmegaplex Grand Indonesia, saya sempat-sempatkan untuk nonton film ini selepas konferensi pers Kurusetra: The Mighty Wars.

Standar saya untuk film superhero yang dibilang keren saat ini adalah Captain Amerika: The Winter Soldier, The Amazing Spider-Man 2 dan X-Men: Days of Future Past, sehingga itulah yang menjadi pembanding. Namun tentu saja, The Avengers pertama juga saya jadikan acuan sebagai prekuel yang saya nilai luar biasa sebagai film gerombolan superhero Marvel.

Dengan perasaan menggebu-gebu, saya berharap bahwa seri kedua dati The Avengers ini dapat menyuguhkan pengalaman nonton gerombolan superhero yang saling bekerjasama dalam menghadapi satu musuh yang super kuat.

Citra superhero lemah

Sebagai penggemar manusia super, harapan ketika menyaksikan film produksi Marvel Studio ini tentu saja para superhero yang mendominasi pertarungan. Namanya juga manusia super, citranya sudah terbangun dari film-film mereka sebelumnya.

Namun apa yang saya saksikan di Age of Ultron adalah superhero yang jauh dari harapan dan citranya di film mereka sendiri. Misalnya saja Thor, dewa Asgard itu dengan sangat mudah terkena hipnotis Scarlet Witch. Saudari dari Quicksilver itu mampu menyusup seperti seorang assassin tanpa diketahui oleh semua superhero. Sekuat sehebat itukah wanita dengan kekuatan telekinesis itu? Tidak juga, ia dapat dengan mudah dilumpuhkan oleh Hawkeye.

Scarlet Witch juga ditampilkan dapat menghipnotis hampir seluruh superhero yang tergabung di The Avengers, membuat mereka berhalusinasi dan bermimpi mengenai masa lalunya.

Apalagi Hulk. Adegannya dengan Black Widow membuat saya muak dengan penampilannya di film ini. Selemah itukah Hulk. Maksud saya, dalam wujud Hulk gitu, Bruce Banner bisa sedih, bisa galau, tanpa berubah kembali ke wujud manusianya.

Superhero yang membuat saya sangat kecewa adalah penampilan dari Quicksilver. Lemah banget, tidak seperti penampilannya di X-Men: Days of Future Past yang keren. Pada film ini, Quicksilver memang dapat berlari secepat cahaya, namun tidak cukup tangkas untuk menghindari peluru nyasar yang mengarah ke dirinya.

Vision teralu kuat, over power!

Ultron, ternyata tidak sehebat yang saya kira.

Penciptaan janggal

Terciptanya Ultron secara tidak sengaja membuat saya berfikir bahwa kemunculannya sangat aneh, apalagi dengan mudah ia bisa merusak program JARVIS yang super canggih. Selain Ulton, terciptanya sosok Vision juga sangat janggal. Ia bukan Ultron, bukan juga JARVIS, lalu secara mengejutkan ia bisa mengangkat Mjolnir.

Saya tahu alasannya dapat mengangkat Mjolnir itu karena batu sakti di dahinya, tapi ya masa selain dewa yang terpilih bisa mengangkat Mjolnir begitu saja. Seakan-akan Thor bisa digantikan dengan kehadiran mahluk android rekayasanya si Ultron.

Alur cerita menarik

Age of Ultron masih menyisakan kisah tentang perlawanan The Avengers terhadap Hydra dan juga sentimen negatif terhadap S.H.I.E.L.D. meskipun hanya berlangsung sebentar dan sebagai alasan masalah dan solusi pemecahan masalah para jagoan di film ini.

Secara keseluruhan saya menilai alur ceritanya cukup bagus, walaupun nampak dipadat-padatkan karena batas durasi yang terbatas. Kadang kala saya bingung juga mengenai apa yang terjadi, tiba-tiba begini, tahu-tahu begitu. Masa bodolah, yang penting saya nonton, berantemnya seru, that's all. Ya sudahlah ya. Tidak berharap banyak mengenai alur cerita dari film laga seperti ini.

Celetukan kocak

Naaah ini, hal yang membat film ini semakin menyenangkan utuk ditonton sekaligus merusak citra beberapa superhero yang seharusnya keren. Bahkan Captain Amerika dan Thor ikut-ikutan. Mengenai adegan lucu, Thor-lah yang menurut saya paling mampu membuat penonton tertawa. Racikan antara keangkuhan dan sisi konyolnya membuat ia seakan-akan dewa yang bodoh.

Yah, dengan banyaknya adegan kocak di film ini, saya sempat berfikit bahwa film yang disutradarai oleh Joss Whedon ini parodi dari Avengers: Age of Ultron.

***

Jika dibandingkan dengan ketiga film yang menjadi standar saya untuk film superhero keren itu, Age of Ultron sih kurang. Sedikit kecewa. Namun saya tidak memungkiri bahwa visual efek yang disuguhkan di sini sangat keren, apalagi pada pertarungan antara Hulk dan Hulkbuster. Keren banget! walaupun akhir pertarungan itu disuguhkan dengan mengecewakan.

"Becandanya jangan kebanyakan dong, lama-lama garing juga."

Ada yang berpendapat bahwa tidak ada post ending scene di film ini. Siapa bilang?! Buktinya ada kok, untung saya bertahan sampai akhir. Thanos muncul lagi dan nampaknya kali ini ia akan turun tangan untuk menghadapi para Avengers pada film selanjutnya.

Skor 6/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar