Sabtu, 14 Maret 2015

Review Kok Putusin Gue? Rasakan Balas Dendam The Virgin


Dibintangi oleh duo The Virgin: Dara dan Mitha, film ini berkisah tentang balas dendam seorang mahasiswi, Amaya (Dara) yang diputusin secara mendadak tanpa alasan yang jelas oleh kekasihnya, Hari (Stefan William) padahal hubungan mereka selama setahun baik-baik saja. Bagaimana pun caranya, Amaya ingin membuat Hari kapok dan malu.

Kesan saya setelah nonton film yang disutradarai oleh M. Harmoko yang diadaptasi dari novel laris karya Ninit Yuniya yang juga berjudul Kok Putusin Gue? ini adalah pada hal film ini bagus, mulai dari cerita, permainan sudut pandang kamera, para pemain hingga musik latarnya. Namun saya merasa ada yang kurang dari suguhannya.

Bagus sih, tapi...

Kekurangan yang paling menonjol adalah dialog para pemain yang nampak kurang lepas, ketika ngobrol terdengan seperti berbisik. Selain itu, film yang diproduksi oleh Studio Sembilan Production dan 0708 Films ini juga banyak menampilkan adegan-adegan diam yang banyak nangisnya.

Patah hati tau nggak liat Dara sebagai Amaya nangis beanjir air mata gitu. Apalagi porsi akting seperti itu ada banyak banget. Dan juga, Amaya dikisahkan masih tetap sayang kepada Hari walaupun ia tau playboy itu telah dengan teganya memutuskan hubungan dengannya untuk wanita lain.

Moral

Patah hati tidak seharusnya balas dendam, apalagi sampai melibatkan sahabat untuk ikut dalam proyek balas dendam itu. Seperti Rini (Mitha) yang hampir putus karena kepergok oleh kekasihnya sedang pacara dengan Hari. Padahal ia hanya disuruh oleh Amaya.

Girls, nggak ada untungnya sakit hati untuk orang yang sudah menyakiti anda. Move on! Banyak pria di luar sana yang tulus dan peduli.

Nah, bagusnya film diproduseri oleh Ravi Pridhnani dan Helfi Kardit ini adalah ada adegan di mana pria yang tertolak akhirnya diterima cintanya karena ketulusan yang ia miliki. Tanpa melihat bentuk fisiknya, sebut saja Igor Saikoji.

***

Kok Putusin Gue? secara keseluruhan saya nilai lumayan. Dibilang bagus banget nggak, jelek pun tidak. Tengah-tengah deh. Untung dibantu dengan gambar dan permainan sudut pandang kamera yang bagus dan The Virgin, kalau tidak, mungkin film ini lebih layak untuk ditayangkan sebagai Film TV saja.

Skor 6/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar