Rabu, 18 Februari 2015

Review Shaun the Sheep Movie, Peternakan Pindah ke Kota


Awalnya saya agak bingung ketika memutuskan untuk menonton Shaun the Sheep Movie dengan CJR The Movie, karena keduanya adalah film yang saya nantikan. Belum lagi filmnya Jackie Chen, Dragon Blade.

Hanya saja, setelah galau sejenak saya memantapkan hati untuk menyaksikan Shaun the Sheep Movie lebih dulu karena saya merasa akan sangat menenangkan apabila menyaksikan film animasi buatan Studio Canal dan Ardman Studio yang tidak banyak menyuguhkan adegan yang menuntut penontonnya untuk berfikir.

Bagaimana sang sutradara dan pengarah bisa menyuguhkan tayangan berdurasi sekitar 90 menit dengan kisah yang dapat dimengerti penonton, khusunya pangsa pasarnya, anak-anak? Hal itulah yang menurut saya unik.

Alur cerita kocak

Jika anda pernah nonton seri televisi Shaun the Sheep, sudah pasti anda mengetahui ide dan konsel dasar dari film ini yang mana tidak akan ada adegan berbicara sama sekali dari para tokohnya yang merupakan hewan ternak, termasuk tokoh manusianya.

Cara sutradara, Mark Burton dan Richard Starzack, dalam mengarahkan film ini sangat mudah untuk dimengerti. Setiap adegan dikemas sederhana mungkin, tapi tidak meninggalkan kesan kocak di sela-sela adegan yang berlangsung. Selain itu, musik latar yang mengiringi semakin membuat setiap adegan jadi semakin hidup.

Sama seperti seri televisinya, film ini dimeriahkan oleh Timmy si domba kecil, ketiga babi usil dan juga Bitzel, anjing penjaga ternak yang setia.

Menegangkan

Ketika saya membaca sinopsis dari film ini pertama kali, di sana dijelaskan bahwa film ini akan berkisah tentang Shaun dan kawanannya pergi ke kota untuk bersenang-senang. Tapi nyatanya, mereka ke kota tidak untuk bersenang-senang, tapi untuk menjalankan misi yang lebih mulia.

Saat di kota itulah petualangan menjadi menegangkan karena kawanan domba itu harus berjuang untuk menghindari kejaran pemburu hewan liar. Apapun mereka kakukan demi menuntaskan misi seperti menyamar dengan baju manusia, menaiki atap, masuk ke dalam pipa, mengendap ke sel hewan tangkapan dan masih banyak lagi.

Pesan moral

Namanya juga film yang tidak ada obrolannya sama sekali sehingga bagi saya tidak banyak pesan moral yang tersirat dalam Shaun the Sheep Movie, kecuali tentang kerjasama tim untuk mencapai tujuan. Sedangkan selebihanya adalah adegan komedi yang mengocok perut penonton.

***

Pada saat saya nonton film ini di XXI Lotte Bintaro, sebagian besar penonton adalah orang tau yang membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Berisiklah gedung bioskop itu dengan ocehan, namun bukan masalah bagi saya karena bocah-bocah itu berisiknya menggemaskan.

Apabila anda ingin mengenalkan film berkualitas dan menyenangkan untuk anak anda, maka Shaun the Sheep Movie ini bisa jadi film yang tepat untuk mereka, karena tanpa bisa baca pun, mereka akan mengerti alur cerita dari film animasi buatan luar negeri ini karena tidak ada ngomong sama sekali, dan pesan yang ditampilkan dalam setiap adegan pun jelas serta mudah dimengerti.

Sampai saat ini, saya masih saja kagum dengan film animasi yang menampilkan para tokoh yang terbuat dari lilin (clay), khususnya seri Shawn the Sheep. Sepertinya rumit sekali pengerjaanya. Maksudnya, manual gitu menyusun setiap adegannya.

Demikianlah ulasan saya mengenai film animasi yang dibuat oleh kreator dari Chicken Run, dan Wallace and Gromit ini. Sangat memuaskan!

Skor 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar