Jumat, 06 Februari 2015

Review Nada untuk Asa, Jangan Kucilkan Penderita HIV-AIDS


Film Indonesia saat ini banyak menampilkan kisah-kisah inspiratif dengan pesan moral yang harus diketahui oleh masyarakat di mana salah satunya adalah film yang mulai tayang pada 5 Februari 2015 di bioskop Indonesia ini.

Salah satu film yang menurut saya memiliki sisi edukatif dan misi tertentu untuk memberitahukan masyarakat tentang isu tertentu adalah Nada untuk Asa, film karya Charlez Gozali yang diproduksi oleh Magma Entertainment yang mana cerita dalam film ini diadaptasi dari kisah nyata dua wanita positif HIV.

Nada untuk Asa berkisah tentang pengidap penyakit HIV yakni Nada (Marsha Timothy) yang tertular HIV dari suaminya yang diperankan oleh Irgi Fahrezi. Keadaan semakin parah ketika keluarga mengucilkan Nada dan anaknya, Asa (Acha Septriasa), yang tertular HIV dari dirinya.

Saya tertarik untuk nonton karena ada Acha Septriasa, Darius Sinatrya, Marsha Timothy dan beberapa akhor kawakan lainnya.

Kisah inspiratif

HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menjadi cikal bakal dari AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). Apabila seseorang sudah terkena HIV-AIDS maka ketahanan tubuhnya akan turun terus menerus.

Walaupun dengan HIV, Asa tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik, menggemaskan dan bersemangat. Hanya saja, hari-harinya selalu dihantui oleh anggapan negatif masyarakat tentang penderita HIV-AID atau dikenal juga dengan istilah ODHA (Orang dengan HIV-AIDS), bahwa ODHA adalah orang "kotor".

Meskipun demikian, namun Asa mampu melewati setiap hari beratnya dengan positif dan tanpa mengeluh. Hidupnya semakin berwarna dan menyenangkan ketika ia berjumpa dengan Wisnu (Darius Sinatrya), seorang pria tinggi, tampan dan "bersih", bebas dari HIV-AIDS, yang berprofesi sebagai pendamping ODHA yang mana Wisnu dengan sangat tulus cinta kepada Asa.

Masa lalu dan masa kini yang campur aduk

Anda tidak boleh salah momen ketika nonton film ini karena adegan yang disuguhkan bercampur baur antara masa lalu dan masa kini. Masa lalu berkisah tentang perjuangan Nada untuk meyakinkan keluarganya, sedangkan masa kini bercerita tentang kisah cinta Asa.

Tidak ada pembatas waktu berupa tulisan semisal "20 tahun kemudian" atau "15 tahun yang lalu" yang menginformasikan bahwa adegan itu berada di masa lalu, atau pada masa kini sehingga selalu pasang mata anda di depan layar agar tidak salah moment ketika nonton.

Walaupun seperti itu, anda tidak akan salah moment kok, karena perbedaan masa itu bisa diketahui dengan mudah dengan pemerannya. Ketika Acha dan Darius muncul maka itu adalah adegan masa kini, sedangkan ketika ada Masha Timothy  dan Mathias Muchus sebagai ayahnya Nada muncul maka itu adalah adegan di masa lalu.

Akting keren

Film yang diproduseri oleh Hendrick Gozali ini semakin keren karena akting dari para pemeran utama sangat bagus. Darius dengan gaya cool tapi agak usil; Acha yang easy going, asik dan bersemangat; dan Marsha Timothy yang sangat amat sukses berperan sebagai seorang istri sekaligus ibu yang sangat bermasalah.

Akting nangis dari Marsha itu luar biasa banget deh. Dua jempol untuk nangisnya. Selain itu, penampilan Acha pada film ini menggemaskan banget dengan potongan rambut pendek.

Sayangnya ada adegan yang menurut saya aneh, namun tidak menjadikannya kekurangan. Pada adegan akhir film ini ketika Wulan Guritno muncul di kuburan. Nah, di sana anak laki-laki Nada melemparinya dengan batu. Adegan itu nggak mendidik sih sebenarnya, namun apabila dilihat dari sudut pandang lain ya bisa dimaklumi, karena demi menolong ibunya.

Namun, adegan itu dilakukan oleh anak yang pada awal film digambarkan denagn sosok yang cengeng, sedangkan anak yang seharusnya lebih galak dan pemarah malah diam saja.

Cameo

Nada untuk Asa semakin menarik dengan ikut bermainnya aktor dan aktris senior yang membuat para penggemarnya terkesan. Mereka antara lain Mathias Muchus, Butet Kartaradjasa, dan Donny Damara.

Sayangnya keberadaan mereka di film ini kurang begitu dieksplorasi sehingga tidak begitu memberikan kesan mendalam.

Peran Wulan Guritno sebagai selingkuhan suaminya Nada kurang begitu meyakinkan sebagai wanita jahat. Logatnya masih agak kaku ketika mengucapkan kata-kata kasar. Walaupun ekspresinya sudah terihat memuaskan.

Cameo yang membuat saya terkesan adalah ikut bermainnya Pongki Barata sebagai dirinya sendiri di awal film yang mana ia bernyanyi di kafe bersama dengan Asa dan pertama kali berjumpa dengan Wisnu.

Gitar akustik dan duetnya dengan Asa sangat menarik untuk disaksikan, dengan lagu berjudul Seluas Itu, lagu yang merupakan soundtrack dari film berdurasi sekitar 90 menit ini.

Pesan moral

Film ini tidak hanya dibuat untuk menyampaikan suatu kisah cinta, tapi juga pesan dan edukasi terhadap masyarakat terhadap ODHA.

Oleh karena itulah, Magma Entertainment bekerjasama dengan Sahabat Positif Komsos KAJ berinisiatif untuk membuat film yang mengangkat isu HIV-AIDS ini ke sebuah film layar lebar sehingga masyarakat dapat mengetahui bahwa ODHA itu tidak berbahaya dan tidak sepantasnay dikucilkan dari masyarakat.

Masih banyak masyarakat menilai ODHA merupakan sosok yang membahayakan dan menjalani gaya hidup "kotor" antara lain sex bebas, narkoba, dan menggunakan jarum suntik secara bergantian. Padahal tidak semua begitu, karena ada juga ODHA yang mendapatkan virus berbahaya itu secara tidak sengaja seperti transfusi darah atau turunan dari orang tuanya yang juga ODHA.

HIV-AIDS itu sama saja seperti penyakit berbahaya pada manusia lainnya di mana pengidapnya butuh dukungan dari keluarga dan kerabatnya untuk dapat menghadapi musibah yang sedang menimpanya.

***

Demikianlah ulasan saya untuk film Nada untuk Asa.

Secara keseluruhan film ini menarik dan cocok untuk edukasi masyarakat khususnya remaja agar mengetahui HIV-AIDS sejak dini.

Selain isu yang diangkat, film ini memang layak dikatakan bagus karena drama percintaan antara Asa dengan Wisnu sangat inspiratif. Ketika cinta mampu mengatasi ketakutan terhadap sesuatu yang ditakuti oleh semua orang, dan menerima pasangan apa adanya.

Jangan sex bebas, hindari narkoba.

Hindari penyakitnya, bukan orangnya!

Skor 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar