Jumat, 30 Januari 2015

Review Penjuru 5 Santri, Harusnya Moral Kita Seperti Warga di Desa Ini


Sejak pertama kali melihat cuplikannya di bioskop, saya sudah sangat tertarik untuk menyaksikan film layar lebar berjudul Penjuru 5 Santri. Sudah lama saya tidak menyaksikan film yang berlatar belakang atau kisahnya di pesantren.

Film yang diproduksi oleh Cahaya Film Alam dan disutradarai Wimbadi JP ini sudah mulai tayang pada 29 Januari 2015. Berkisah tentang lima sekawan yang tinggal di pedesaan yang berjarak cukup jauh dari Yogyakarta, Penjuru 5 Santri memuat begitu banyak pesan moral.

Apa yang ditampilkan pada setiap adegannya memuat pesan tentang sistem dan kebudayaan Indonesia sesungguhnya. Mungkin jika melihat posternya, anda akan berfikir bahwa Penjuru 5 Santri merupakan film yang diperuntukkan bagi penonton beragama Islam karena latar belakangnya adalah pesantren.

Akting natural

Sutradara mampu mengarahkan para pemain untuk menampilkan akting terbaik dan nautral sebagai orang desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Penduduk yang masih ramah, saling bantu, peduli sesama dan bergotong royong.

Khususnya pemeran lima sahabat yakni Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng dan Rahayu. Walaupun masih kecil, mereka menampilkan akting yang sangat natural sebagai anak yang tumbuh di desa. Akting yang tidak akan anda saksikan dari anak-anak yang tampil di sinetron "sampah" Indonesia.

Akting super watak juga disuguhkan oleh pemeran Mbah Satir (Yati Surachman) selaku neneknya Sabar yang sakit sakitan. Ia memang sangat cocok untuk memerankan orang susah dan antagonis. Selain itu, pemeran orang gila pada film ini juga bagus banget. Aduh siapa itu namanya saya lupa.

Pemeran Kiai Landung (Kiai Haji D. Zawawi Imron) dan Gus Pras (Rendy Bragi) juga bagus. Sebagai seoorang guru besar, Kiai Landung menampilkan sosok panutan yang sangat alim, lembut, diplomatis dan berpengaruh.

Sebagai murid, Gus Pras merefleksikan seorang murid ideal yang mampu menangkap pelajaran yang dicontohkan oleh gurunya. Penurut, sabar menghadapi keadaan dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak.

Memuat pesan moral

Saya merasa, apa yang disampaikan pada film ini seharusnya disadari dan didengarkan oleh para pemimpin dan pelaku pendidikan Indonesia. Pendidikan yang benar adalah mengenai pembangunan akhlak yang baik dari pada murid, bukan hanya menghafal rumus-rumus atau mendapatkan nilai tertinggi dengan cara apapun.

Pesan dalam kehidupan sehari-hari, tolong menolong, juga disampaikan dengan contoh adegan antara warga. Ketika Mbah Satir mencari Sabar, dan di rumahnya tidak ada air dan minyak tanah. Ada warga yang langsung menolong dengan ikhlas untuk membawakan air dan membeikan minyak tanah kepadanya, walaupun si Mbah agak menolak.

Tidak main hakim sendiri. Budaya yang mungkin sudah mulai pudar dari masyarakat kita. Ketika mengetahui ada yang tidak benar, maka warga memilih untuk melapor ke pihak berwajib. Walaupun memiliki jabatan cukup tinggi, Lurah, untuk melabrak para pelaku yang dicurigai.

Adegan hidup beragama yang baik juga ditunjukkan oleh Kiai Landung. Tidak menyakiti, saling menghormati, toleransi dan tidak memaksa. Saya rasa, walaupun dikemas dalam pola agama Islam, tapi pesan keagamaan dan moral pada film ini cocok untuk semua kalangan agama, karena pesannya umum banget.

Keindahan alam Indonesia

Anda tidak akan melihat lalu lalang kendaraan pada film ini. Berlatar belakang di sebuah desa bernama Selopamioro, 41 Km di selatan Yogyakarta, pemandangannya sangat indah. Hamparan biru langit bagaikan lukisan, hijaunya sawah dan pegunungan, jernihnya sungai.

Warga di gambarkan masih menggunakan kayu bakar untuk kegiatan memasak dan berjalan untuk bepergian. Sumur warga yang digunakan sebagai sumber air bersih. Bangunan rumah pun masih menggunakan kayu untuk tembok dan tanah sebagai lantainya. Wah, pemandangan yang hanya saya lihat di film ini dan ketika pulang kampung ke Jawa. Hahah!

Akhir yang dipaksakan

Kisahnya dan penampilan sudah bagus, memuaskan dan penuh dengan kesederhanaan. Namun sayangnya film ini tidak luput dari beberapa kekurangan di mana akhirnya tidak begitu berkesan dan terasa dipaksakan.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tau-tau meninggal. Lalu para penjahat yang tidak diketahui kejahatan apa yang sesungguhnya mereka lakukan di desa itu. Apakah ingin merampok, menguasai lahan, jualan narkoba, atau apa saya tidak begitu mengeri. Pokoknya mereka jahat dan terkesan sebagai pelengkap derita.

Lalu, orang gila itu sebenarnya siapa sih. Pada awal film datang sebagai orang gila tapi pemikirannya terhadap wakil rakyat dan pemimpin boleh juga. Lalu dibujuk oleh Kiai Landung dengan mudahnya bisa nurut. Ketika akhir film ia mengaku memiliki anak perempuan dan kembali pulang setelah mendapat sepatu. Saat datang ke pesantren, mengenakan baju rapi layaknya orang waras.

Keberadaan orang gila di film inilah yang paling membuat saya bingung.

Andaikan akhirnya ditampilkan lebih bagus, film yang diproduseri oleh Poedji Churniawan ini akan lebih berkesan.

***

Demikian ulasan saya setelah menonton film ini. Terleas dari kelebihan dan kekurangannya, saya sangat mengapresiasi film ini karena mampu menampilkan pesan moral tentang keagamaan dan pola hidup yang ideal.

Apabila anda merasa lelah dengan tayangan sampah yang banyak beredar di layar kaca, maka Penjuru 5 Santri ini akan mengembalikan pemikiran anda tentang kehidupan.

Akhir kata, saya sangat terkesan dengan Kiai Haji D. Zawawi Imron yang merupakan penyair nasional, syairnya dalam film ini membuat hati adem.

Skor 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar