Jumat, 09 Januari 2015

Review Garuda Superhero, Efek Komputer Berlebihan


Garuda Superhero merupakan film yang diproduksi oleh Putaar Films yang mulai diputar di bioskop Tanah Air pada 8 Januari 2015. Diproduseri oleh Dhoni Ramadhan, film ini sangat saya nantikan sejak pemutara video promonya di YouTube.

Film ini berkisah tentang diciptakannya senjata mutakhir bernama Gatotokaca MAC untuk menyelamatkan bumi dari jatuhnya asteroid dari luar angkasa di masa depan. Ironisnya, senjata tersebut malah berbalik menjadi ancaman bagi penduduk bumi setelah Durja King merebutnya. Ancaman pun disebarkan ke seluruh penjuru dunia, bahkan Detasemen Anti Teror (DAT) tidak sanggup mengatasinya.

Namun, apakah film yang ditulis dan disutradarai oleh x.Jo dan dibintangi oleh Rizal Alaydrus, Slamet Raharjo, Agus Kuncoro dan Alexa Key ini selayak itu untuk dinantikan dan ditonton? Berikut adalah ulasan saya mengenai film yang mengklai dirinya sebagai The First Indonesia Superhero ini.

Efek komputer berlebihan

Dikarenakan ini adalah film lokal, saya berharap ada konten lokal berupa latar belakang lingkungan di berbagai ikon lokasi di Indonesia donk, tapi saya tidak melihat adanya sedikit lokasi yang mempromosikan Indonesia.

Saya mengerti bahwa film ini menampilkan dunia khayalan yang disuguhkan dalam efek komputer. Namun apakah harus semuanya dibuat dengan efek komputer? Ya nggak juga sih seharusnya. Tapi yang saya saksikan di sini adalah mayoritas latar belakang lingkungan diadaptasi dengan efek komputer.

Banyak bagian yang nge-blur, pecah dan kurang proporsional. Misalnya saja saat Garuda bertarung di ruangan, ukuran tembok dan pintunya seakan-akan besar banget. Kemudian, latar belakang ruang tamu juga dibuat dengan efek komputer, yah, berlebihan banget efek komputer di film ini. Sangat terlihat bahwa itu adalah efek komputer.

Jarang banget ada latar belakang yang nyata gitu, bahkan saya sangat bersyukur bisa melihat ada adegan yang seluruhnya tidak menggunakan efek komputer. Saya memiliki alasan menulis seperti ini karena efeknya itu kurang detail.

Akting pemain kaku

Kurang alami dan kurang meghayati peran. Sebagai seorang penjahat, ekspresi wajah dari kelompok Durja King saya rasa kurang dapet. Mereka memang kejam dan sudah berusaha kejam, tapi dari ekspresi yang ditunjukkan, mereka terlihat sangat memaksakan perannya. Saya menaruh perhatian pada Alexa Key sebagai Zyu, saat bertarung dia dieeeem aja, kurang ekspresi, bahkan saat kepalanya ditembak oleh DAT.

Begitu juga dengan Garuda atau Bara yang diperankan oleh Rizal Idruz. Sebagai pahlawan super, seharusnya kepribadiannya menginspirasi penonton, khususnya anak-anak. Namun apa yang saya lihat adalah seorang pria kaku yang memiliki kekuatan super sehingga saya merasa Garuda kurang bisa jadi sosok yang diidolakan oleh anak-anak. Selain itu, gerakan Garuda saat beraksi pun terlihat kaku yang mana kostumnya kebesaran, kurang atletis.

Hanya saja, film ini terselamatkan oleh akting dua aktor kawakan Tanah Air, Slamet Rharjo dan Agus Kuncoro. Sebagai Durja King yang jahat, akting konyol Slamet Raharjo sangat menyebalkan dan kocak. Sementara itu, Agus Kuncoro sebagai anggota DAT lebh inspiratif dari Garuda itu sendiri yang mana ia mengajarkan anaknya utnuk berdoa sebelum tidur.

Ide cerita sudah bagus

Mengenai ceritanya sih sudah bagus, namun pelaksanaanya dan perwujudannya dalam film yang kurang menarik. Ada kilas balik yang menceritakan sebab Bara mendapatkan kekuaan sebagai Garuda, penceritaanya itu kurang dramatis. Sangat amat lancar tanpa drama yang membuat penonton terkejut.

Dikarenakan Bara adalah orang terpilih, maka ia ditentukan sebagai superhero. Lho, apa alasannya dia jadi orang terpilih? Apa karena ia fitness, atau dia ganteng? Kalau alasannya cuma seperti itu, seharusnya orang lain yang lebih sehat dari Bara pun bisa terpilih jadi Garuda.

Kostum keren

Inilah yang menurut saya keren dari film ini, kostum para tokoh yang keren-keren, kecuali Garuda.

***

Kesimpulan setelah saya menyaksikan film ini adalah Garuda Superhero agak mengecewakan, khususnya dari efek komputer dan akting para pemainnya.

Apabila ditanya saran untuk film ini agar lebih baik kedepannya, apabila ingin dibuatkan sekuel, maka saya sarankan agar menggunakan efek komputer sewajarnya. Kalau latar belakang seperti di taman, ruang tamu, atau lokasi-lokasi yang bisa ditampikan dengan pemandangan real, ya tidak perlu efek komputer.

Saya akan memberikan nilai tinggi jika Garuda Superhero dibuat sebagai web series, tapi sayangnya, ini adalah film layar lebar yang seharusnya detail merupakan hal yang paling diperhatikan sehingga sedengan dengan sangat menyesal nilai yang saya berikan di bawah rata-rata.

Skor 4/10

3 komentar:

  1. Saya juga agak menyesal, melihat masyrakat Indonesia yg hanya bisa bilang "Lu bisa bikin ga?", "Lu hargain dikit napa?"
    Please, menurut saya memberi dukungan tak harus membela padahal dalam hatinya setelah menonton malah sakit mata. Saya pikir Garuda ini harus dapat pukulan keras, jangankan dari kritikus film tapi masyrakat pun sudah pasti mampu memberi pukulan keras pada Jojo ehh.....X.Jo

    BalasHapus
  2. Saya memang belum menonton filmnya di bioskop, tapi kalau dari melihat trailernya di YouTube dan membaca nama sutradaranya sudah jelas terbayang seperti apa film ini jadinya. Insting saya rupanya tidak salah, kalau membaca review banyak orang yg sudah menonton, semuanya sepakat mengatakan kalau ini film gagal.

    BalasHapus
  3. Permasalahan utamanya adalah Mental & Kualitas dari sineas perfilman kita yg msh d bawah rata2..
    Banyak yg sebenarnya yg tdk kualified..
    Begitu jg dgn aktor2 ato aktris2nya yg hanya modal ganteng ato cantik aja tp aktingnya d bawah rata-rata...

    BalasHapus